http://chempro.upnjatim.ac.id/index.php/chempro/issue/feed ChemPro 2020-11-30T01:41:18+00:00 Erwan Adi Saputro chempro@upnjatim.ac.id Open Journal Systems <p>Chem-Pro is journal with scope in chemical engineering , chemistry , process engineering,&nbsp; and all of the processes of chemical reactions. Issued by Department of Chemical Engineering&nbsp; at UPN "Veteran" East Java. This journal has been published since 2020 and open for&nbsp; author all over the word and will issued in print and e-journal.</p> http://chempro.upnjatim.ac.id/index.php/chempro/article/view/36 Pemanfaatan Biochar dari Sabut Siwalan sebagai Adsorben Larutan Cu 2020-07-31T12:41:58+00:00 Tefan Gilang Maulana Yusuf cakgoendoel@yahoo.com Dinda Syafitra dindasyafitra9@gmail.com Lucky Indrati Utami luckyindrati02@gmail.com Kindriari Nurma Wahyusi kindrinurma@gmail.com <p><em>This </em><em>research has purpose to know</em><em>&nbsp; the </em><em>effect of the use of biochar from siwalan peel as an adsorbent, and the effect of interaction time to adsorption ability of Cu</em><em>. The adsorbent was taken from Blitar City, the silica content in siwalan peel can be turned into carbon if it burned. Siwalan peel is burned in the furnace at 100&nbsp;<sup>o</sup>C for 1 hour, and carried out activation in a solution of HCl to become </em><em>adsorbent</em><em>.</em><em> Determining the effect of adding biochar to Cu adsorption by time variations of 90; 120; 150; 180; 210minutes with the addition of 0,25; 0,5; 0,75; 1; 1,25gram adsorbent. H</em><em>eavy metal content analyzed by using AAS (Atomic Absorption Spectroscopy).&nbsp;</em><em>The result of this research that biochar from siwalan peel could adsorp Cu which indicated that the reduce levels of Cu became 20,512ppm from the initial level of 35,33ppm. The second step has shown that time variation of interaction affect on adsorption ability of Cu, optimum interaction time at 210</em><em>minutes with a</em><em>dsorption capacity</em><em> 60,488mg/g.&nbsp;</em></p> 2020-07-30T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://chempro.upnjatim.ac.id/index.php/chempro/article/view/38 Kajian Perpindahan Massa Ekstraksi Polisakarida pada Biji Asam Jawa dengan Pelarut NaOH 2020-07-31T12:42:02+00:00 Muhammad Hibatul Azizi kerupuk15@gmail.com Dyah Wimala Ramaniya dwramaniya@gmail.com Caecilia Pujiastuti caeciliapujiastuti@gmail.com <p><em>Abstract</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> <p><em>Tamarind seeds are waste that can be utilized by taking the polysaccharides. This study aims to determine the mass transfer coefficient in the extraction process of tamarind seeds with NaOH solvent. The factors that influence mass transfer are extraction time, size, temperature, stirring speed, and solvent. Tamarind seeds are soaked for 3 hours then boiled and then the seeds are removed and dried. After that 50 grams of tamarind seeds were extracted with NaOH solution with a concentration of 0.1N; 0.2 N; 0.3 N; 0.4 N; 0.5 N with extraction time 15, 30, 45, 60, 75 minutes. Then the filtrate is separated from the residue. The filtrate was obtained by adding 96% ethanol in a ratio of 1: 2 and allowed to stand for 24 hours, separating the solid with the filtrate. The resulting solid was heated at 75oC and the results were analyzed for polysaccharide levels by the Gravimetry method. In this study, the highest mass transfer coefficient (kLa) value obtained at 0.5 N NaOH concentration is 0.01734 / minute.</em></p> <p>&nbsp;</p> 2020-07-30T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://chempro.upnjatim.ac.id/index.php/chempro/article/view/80 Kinetika Reaksi Fermentasi Selulosa Tongkol Jagung menggunakan Enzim Selulas pada Reaktor Batch 2020-08-02T09:53:05+00:00 Nanda Widya Fibni Sina nandafibni@gmail.com Asti Aprilya Sukmaria astiaprilyas21@gmail.com Sri Redjeki Sri4tk@yahoo.com <p><em>Glukosa dapat dihasilkan darl hidrolisa polisakarida, misalnya pati dan selulosa. Salah satu sumber selulosa yang melimpah di alam namun kurang dimanfaakan adalah tongkol jagung. Pada penelitian ini akan dilakukan hidrolisis selulosa dari tongkol jagung dengan proses fermentasi untuk mendapatkan glukosa. Tujuan dari p</em><em>enelitian ini </em><em>adalah untuk menentukan persamaan laju reaksi fermentasi selulosa tongkol jagung menjadi glukosa dengan menggunakan enzim selulase pada proses batch.</em> <em>Proses h</em><em>idrolisis selulosa dilakukan dengan penambahan asam atau secara enzimatis, sebelum melakukan hidrolisis perlu dilakukan delignifikasi karena lignin yang menjadi penghambat utama proses hidrolisis selulosa. Tahapan penelitiam ini yaitu mempersiapkan bahan dari tongkol jagung menjadi serbuk tongkol jagung, tahap delignifikasi,</em> <em>tahap fermentasi enzim, dan analisa hasil. Analisa </em><em>kadar glukosa </em><em>dilakukan dengan menggunakan</em><em> portable-</em><em>refraktometer. </em><em>Michaelis-Menten</em><em> digunakan sebagai metode untuk mengetahui konstanta reaksi.</em> <em>Penelitian ini dilakukan dengan banyak substrat awal adalah 10% (%w/w) pada waktu 30, 60, 90, 120, dan 150 menit. </em><em>Glukosa yang terbentuk dari fermentasi selulosa tongkol jagung relatif kecil dengan waktu fermentasi 150 menit sebesar </em><em>7</em><em>%. </em><em>Persamaan laju reaksi yang terbentuk dari proses ini adalah </em> <em>.</em></p> 2020-07-30T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://chempro.upnjatim.ac.id/index.php/chempro/article/view/44 Kinetika Reaksi Pembentukan Kalium Sulfat dari Ekstrak Abu Janjang Kelapa Sawit dan Asam Sulfat 2020-08-07T00:44:31+00:00 Mierna Tri Andini mierna.andini48@gmail.com Darwati darwati darwati@gmail.com Retno Dewati Dewati.r@gmail.com <p>Most farmers in Indonesia really need potassium fertilizer to meet the needs of K nutrients in the soil, because most of the potassium nutrients in the soil are still relatively small. Janjang ash is an organic solid waste from the burning of oil palm mills which is used as fertilizer because it contains high K2O elements. Under these circumstances an attempt was made to find alternatives in the formation of potassium sulfate (K2SO4). One of the formation of potassium sulfate (K2SO4) is by reacting potassium oxide (K2O) found in the extract of janjang ash palm oil with sulfuric acid (H2SO4). The purpose of this research is to study the effect of temperature and time on the rate of potassium sulfate formation. To determine the reaction order and the reaction rate constant of the formation of potassium sulfate from the extract of janjang ash palm oil with sulfuric acid. Research on the kinetics of the reaction of potassium sulfate formation was carried out by first extracting the janjang ash palm oil with a ash ratio of 100 gr / liter aquadest. Ash extract was reacted with sulfuric acid (H2SO4). The result is then titrated with 0.5 N NaOH. The variables used are time (40, 50, 60, 70, 80 minutes) and temperature (50, 60, 70, 80, 90 ºC). From the results of this study, the reaction of potassium sulfate formation from oil palm and ash sulfuric longitudinal extracts followed the second-order reaction with the greatest potassium sulfate conversion was 93.01% at 90 ºC and 80 minutes. The value of the reaction rate constant (k) obtained is k = 1,5 x 10-9 e-5480/T</p> 2020-07-30T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://chempro.upnjatim.ac.id/index.php/chempro/article/view/16 Pemanfaatan CPO Off-Grade dalam Pembuatan Biodiesel Menggunakan Katalis CaO pada Reaksi Transesterifikasi 2020-08-07T01:22:08+00:00 Fanny Aulia Ramadhanti fannyaulia01@yahoo.com Fikri Maulidan maulidanfm13@gmail.com Bambang Wahyudi bwahyudi11@yahoo.com <p><em>Biodiesel merupakan bahan bakar minyak terbarukan yang berasal dari minyak nabati atau lemak hewani. Pembuatan biodiesel dari minyak nabati dapat dilakukan dengan metode transesterifkasi. Salah satu minyak nabati yang memiliki potensi untuk dikonversi menjadi biodiesel adalah CPO off-grade. &nbsp;CPO off-grade diolah menjadi biodiesel dengan reaksi esterifikasi dan transesterifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data kualitas biodiesel yang dihasilkan dari CPO Off-grade&nbsp; melalui reaksi esterifikasi dengan katalis H2SO4 dan transesterifikasi dengan katalis CaO. Tahapan melakukan penelitian ini, pertama dengan melakukan esterifikasi menggunakan&nbsp; metanol sebanyak 12 %-b dan H2SO4 sebanyak 1%-b pada suhu&nbsp; 60oC selama 60 menit. Kemudian melakukan transesterifikasi dengan&nbsp; penambahan&nbsp; metanol sebanyak 12 %-b dan CaO sebanyak 2%-b. Reaksi dijalankan pada suhu 45oC ; 50oC ; 55oC ; 60oC ; 65oC dengan waktu 60 menit ; 70 menit ; 80 menit ; 90 menit ; 100 menit. Yield biodiesel terbesar diperoleh dari suhu transesterifikasi 65oC selama 100 menit sebesar 29,5%.. Biodiesel yang dihasilkan berdasarkan karakterisitik densitas,viskositas, titik nyala, angka asam, dan angka cetane telah memenuhi standar SNI 7182:2015.&nbsp; </em></p> 2020-07-30T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://chempro.upnjatim.ac.id/index.php/chempro/article/view/48 Kinetika Reaksi Pembentukan Kalsium Fosfat dari Asam Fosfat dan Cangkang Kerang Darah 2020-09-07T06:07:09+00:00 Alvin Hariyanto alvinh909@gmail.com Vita Kartika Sari alvinh909@gmail.com Caecilia Pujiastuti caeciliapujiastuti@gmail.com <p><em>Pemanfaatan kerang darah di indonesia umumnya masih terbatas pada bagian dagingnya sebagai sumber protein. Sedangkan cangkangnya belum banyak dimanfaatkan. Cangkang kerang darah mengandung senyawa kalsium karbona</em><em>t</em><em> (CaCO<sub>3</sub>) yang cukup tinggi sehingga memungkinkan untuk disintesa menjadi produk berbahan dasar kalsium . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mensintesa kalsium fosfat dari cangkang kerang darah dan asam fosfat serta mempelajari kinetika reaksinya. Prosedur penelitian ini adalah. Pertama menghaluskan cangkang kerang darah sampai ukuran 200 mesh. Kemudian menambahkan senyawa asam fosfat 500 ml dengan konsentrasi 4% ke dalam &nbsp;40 gram serbuk cangkang kerang darah dan mengaduknya dengan kecepatan 300 rpm. Variabel yang digunakan dalam penelitian adalah variabel temperatur reaksi &nbsp;30, 40, 50, 60, dan 70</em> <em><sup>o</sup></em><em>C dan waktu reaksi 30, 40, 50, 60, dan 70</em><em> menit</em><em>. Hasil penelitian menunjukan bahwa reaksi pengendali adalah reaksi kimia, dan reaksi mengikuti reaksi orde satu semu dengan nilai konstanta reaksi </em><em>&nbsp;</em> <em>.</em><em>&nbsp;&nbsp; </em></p> 2020-07-31T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://chempro.upnjatim.ac.id/index.php/chempro/article/view/54 Aplikasi Kulit Buah Nanas Sebagai Inhibitor Korosi pada Baja di Lingkungan NaCl 3,5% 2020-08-29T14:27:06+00:00 Gary Dimarzio garydimarzio22@gmail.com Lia Arum Setyowati arumlia10@gmail.com Sani Sani sanisjamsu@gmail.com Dwi Hery Astuti dwihery59@gmail.com <p><em>Korosi adalah salah satu peristiwa perusakan logam yang terjadi secara spontan. Peristiwa korosi mudah terjadi pada peralatan mesin industri yang berbahan baja. Peristiwa korosi semakin mudah terjadi ketika alat industri berkontak langsung dengan lingkungan yang korosif, seperti air laut. Salah satu pencegahan korosi yang dilakukan terhadap logam baja adalah dengan penambahan inhibitor korosi pada media yang berkontak langsung. Inhibitor dari bahan alami menjadi alternatif sebagai inhibitor ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari inhibitor korosi dari ekstrak kulit nanas pada baja karbon rendah dalam lingkungan NaCl 3,5%. Perhitungan laju korosi menggunakan metode weight loss. Penelitian ini menggunakan variabel konsentrasi inhibitor yaitu 5, 10, 15, 20, 25 ppm dan durasi waktu perendaman 3, 6, 9, 12 dan 15 hari. Dari hasil penelitian menunjukkan penambahan ekstrak kulit nanas sebagai inhibitor dapat menurunkan laju korosi baja karbon rendah dengan laju korosi terkecil yaitu sebesar 2,867 mpy selama 3 hari dengan konsentrasi inhibitor 25 ppm dan efisiensi inhibitor paling besar yaitu pada 25 ppm selama 3 hari sebesar </em><em>0,8443%.</em></p> 2020-07-30T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://chempro.upnjatim.ac.id/index.php/chempro/article/view/63 Studi Kesesuaian Mikroorganisme terhadap Pengolahan Limbah Cair Industri 2020-08-29T15:46:26+00:00 Hasri Adiyani Mustamin hasriadiyani0801@gmail.com Retno Panggih Larasati laraspanggih@gmail.com Ketut Sumada sumadaketut@gmail.com <p><em>Pengolahan limbah cair dengan polutan senyawa organik umumnya menggunakan mikroorganisme sebagai media pengurai. Limbah yang mengandung senyawa organik di PT. SIER Surabaya, berasal dari industri kerupuk udang, industri keripik usus, limbah dari penyimpanan dan pencucian ikan (cold storage), industri tahu, dan pengolahan rumput laut. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari kesesuaian jenis mikroorganisme terhadap jenis limbah cair organik. Prosedur Penelitian adalah melakukan isolasi lumpur aktif pada PT. SIER untuk mendapatkan bakteri yang berkontribusi pada pengolahan limbah. Dari hasil isolasi diperoleh 5 jenis bakteri yaitu Achromobacter, Flavobacter, Zooglea, Mycobacterium dan Bdellovibrio. Bakteri yang diperoleh kemudian diaplikasikan ke dalam lima jenis limbah cair organik yaitu limbah kerupuk udang, limbah industri keripik usus, limbah dari penyimpanan dan pencucian ikan (cold storage), industri tahu, dan pengolahan rumput laut. Dari hasil penelitian diperoleh hasil </em><em>m</em><em>ikroorganisme yang memiliki daya urai paling dominan pada berbagai limbah yaitu Achromobacter</em><em> sedangkan Zoogela tidak dapat menguraikan limbah cair keripik usus, dan jutru mengalami kematian.</em></p> 2020-07-30T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://chempro.upnjatim.ac.id/index.php/chempro/article/view/51 Proses Pembuatan Bioetanol dari Buah Naga Merah 2020-11-30T01:41:18+00:00 Renaning Tyas Ramadhani renaningramadhani@gmail.com Nisa Arrachmah renaningramadhani@gmail.com Soemargono Soemargono soemargono@upnjatim.ac.id Lilik Suprianti liliksuprianti.tk@upnjatim.ac.id <p><em>Buah naga merupakan tanaman tropis yang dapat berbuah sepanjang tahun. Di Indonesia, buah naga telah dikembangkan di berbagai daerah. Pada musim panen, hasil buah naga sangat melimpah sehingga sbeagian tidka terserap oleh konsumen dan terpaksa dibuang</em><em>. </em><em>Disisi lain, daging buah naga merah &nbsp;memiliki kandungan glukosa sebesar 12% brix sehingga berpotensi menjadi bahan baku pembuatan bioethanol dengan proses fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk</em><em> membuat bioetanol</em> <em>dari buah naga merah dengan proses fermentasi serta </em><em>mengetahui pengaruh variabel jumlah yeast dan jumlah nutrisi/NPK terhadap kadar bioetanol yang dihasilkan. </em><em>Prosedur penelitian dimulai </em><em>dengan menghaluskan daging buah</em><em> naga merah sampai lembut. Kemudian menempatkan jus buah naga dalam fermentor sebanyak 300ml lalu melakukan analisa kadar glukosa awal. Tahap selanjutnya adalah </em><em>penambahan yeast dan nutrisi</em><em>/</em><em>NPK sesuai variable yang </em><em>telah </em><em>ditentuka</em><em>n. Variabel kadar</em><em> yeast</em><em> sebanyak</em><em>: 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% dari volume jus serta jumlah nutrisi/NPK</em><em> sebanyak</em><em>: 2 gr, 4 gr, 6 gr, 8 gr, dan 10 gr</em><em>. Setelah penambahan yeast dan nutrisi, fermentor </em><em>ditutup</em><em> dengan penutup yang </em><em>dilengkapi</em> <em>&nbsp;airlock</em><em>. Proses fermentasi dilakukan </em><em>selama 4 hari. Selanjutnya jus buah naga hasil fermentasi dianalisa kadar alkoholnya. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kadar alkohol yang dihasilkan dipengaruhi oleh jumlah yeast dan jumlah nutrisi/NPK. kadar ethanol paling tinggi sebesar 26% dengan penambahan yeast sebanyak 15 gram serta nutrisi sebanyak 10 gram.</em></p> 2020-07-31T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://chempro.upnjatim.ac.id/index.php/chempro/article/view/64 Penurunan Kation Anion Pengotor Garam Industri Menjadi Garam Pro-Analis dengan Pertukaran ion 2020-07-31T12:42:31+00:00 Feren Luky Andika verendian17@gmail.com Afif Muayis verendian17@gmail.com Nurul Widji Triana nurulwidjitriana@gmail.com <p>Abstrak</p> 2020-07-31T11:47:54+00:00 ##submission.copyrightStatement##